Perdamaian Suporter dan Sebatang Pohon Mundu

Jika saya ditanya apa yang paling Indonesia di Indonesia, saya akan memilih sebuah momentum. Momentum ini harus langka dan direpresetasikan dengan sesuatu yang langka pula. Dan saya memilih perdamaian antara Bonek (suporter Persebaya) dan Pasoepati (suporter Solo) yang ditandai dengan penanaman pohon mundu di sebuah rumah di Solo.

Pasoepati adalah kelompok suporter asal Solo yang identik dengan warna merah, dan Bonek dikenal sebagai suporter Persebaya yang identik dengan warna hijau. Tahun 2000, ribuan Pasoepati pernah menyaksikan langsung pertandingan Pelita Solo di Gelora 10 Nopember, markas Persebaya. Tak ada keributan saat itu.

Namun seiring berjalannya waktu, terjadi perseteruan. Banyak versi tentu soal hal-ihwal awal perseteruan. Namun yang terang, setiap kali melintasi Solo, selalu terjadi perang batu antara Bonek yang naik kereta api dengan Pasoepati. Pertempuran batu antara Bonek dengan Pasoepati sempat menghiasi media massa nasional, dan semakin memperburuk citra Bonek yang selama ini dikenal sebagai ‘bad boys’.

Namun setiap pertempuran, setiap perselisihan, akan menemui titik puncaknya. Dan semua orang kemudian akan mulai berpikir: untuk apa semua pertikaian itu. Dan, di salah satu sudut kota Solo, di Jalan Kolonel Sugiono 37, sebuah memomentum untuk mengakhiri perselisihan bisa ditandai dengan apapun. Momentum awal itu berasal dari Garcinia Dulcis.

Garcinia Dulcis. Orang menyebutnya pohon apel Jawa. Ini tanaman yang dipercaya asli Indonesia, menyebar ke Kalimantan, Thailand, dan Filipina. Hari ini, tak banyak orang yang tahu bagaimana tanaman ini. Sebagian referensi menyatakan tanaman ini sudah langka.

Ayah saya mengatakan, pohon ini langka karena selalu ditebang sebelum tumbuh besar. Ada kepercayaan orang Jawa di desa, kalau pohon ini tempat berdiamnya hantu atau roh halus jahat. Namanya saja mitos, belum teruji secara ilmiah. Namun itu sudah cukup untuk membuat pohon ini hilang dari peredaran.

Langkanya pohon asli Indonesia ini pas benar dengan langkanya momentum di Jalan Kolonel Sugiono 37. Ini rumah Pak Mayor Haristanto, salah satu pemrakarsa berdirinya Pasoepati. Momentum langka itu terjadi pada Sabtu, 8 Januari 2011. Dua kelompok yang berselisih bertemu.

Maka hari itu, pohon apel Jawa alias Garcinia Dulcis menggantikan simbol perdamaian yang selama ini dikenal, daun pohon zaitun. Ia juga menggantikan pipa asap perdamaian ala suku Indian Amerika.

Pak Mayor mengatakan, pohon itu adalah tetenger. “Pohon ini lambat laun akan menjadi besar dan menjadi catatan sejarah,” kata mantan Presiden Pasoepati itu kepada saya.

Kenapa pohon apel Jawa? “Wah, aku punyanya itu,” kata Pak Mayor, tertawa.

Garcinia Dulcis alias apel Jawa punya nama baru di sana: Pohon Cinta Pasoepati-Bonek.

Momentum Garcinia Dulcis menggelinding, membesar seperti bola salju. Banyak yang pesimis perdamaian akan tercapai, bahkan di tubuh Pasoepati sendiri. Namun seperti kata Pak Mayor: itu langkah kecil. Dan setiap perjalanan panjang, selalu ditempuh dengan satu langkah kecil. Setapak demi setapak.

Keraguan itu menemukan jawabannya pada 9 Mei 2011. Kepolisian melarang pertandingan Solo FC melawan Persebaya 1927 di Manahan Solo. Aparat kepolisian masih mengkhawatirkan bentrokan antara Bonek dengan Pasoepati. Solo FC ‘terusir’ ke Surabaya. Namun justru di sinilah itikad perdamaian antara dua suporter dengan massa besar itu diuji.

Setelah selama 11 tahun absen menyambangi Surabaya, sekitar tiga ratus Pasoepati memutuskan datang untuk menyaksikan pertandingan itu. “Kami sebenarnya was-was juga, apa betul janji perdamaian Bonek bisa dipercaya. Jangan-jangan kami terjebak masuk kandang buaya sebenarnya. Ternyata kami keliru. Bonek mengamankan kami sangat luar bisa, dan menganggap kami saudara kandung mereka yang lama tak berjumpa,” kata Pak Mayor.

Bonek memang mempersiapkan diri menyambut kunjungan Pasoepati. Mereka menyebutnya CLBK: cinta lama bersemi kembali. Saya mendapat cerita bagaimana salah satu tokoh Bonek mendatangi basis-basis suporter Persebaya di sejumlah kota yang dilalui kereta api yang bakal dilalui suporter Pasoepati. Inti pesan di setiap kota: saatnya mengakhiri pertikaian.

Puncaknya di Stadion 10 Nopember saat hari pertandingan, ratusan warna merah berada di antara lautan hijau. Tak ada gesekan, tak ada adu jotos. Yang ada hanya saling lempar pujian melalui koor nyanyian di antara dua kelompok suporter.

Di tengah suasana suporter Indonesia yang kental dengan aroma pertikaian, momentum ini tentu ganjil dan tak lazim. Namun seperti Garcinia Dulcis yang mulai terlupakan, momentum seperti ini seperti dilupakan oleh media massa. Tak banyak media massa yang memberikan tempat yang layak terhadap proses perdamaian ini.

Pak Mayor meminta media massa untuk mulai bersikap jujur. “Bonek selama ini mendapat stigma dan diberitakan negatif. Tapi menurut saya, Bonek sudah berubah. Mereka sudah lulus ujian. Mereka memberi keteladanan yang bisa kita contoh. Saya salut Bonek bisa menjadi pionir perdamaian,” katanya.

Dengan Pasoepati, tahap awal perdamaian sudah terlampaui. Mayor berharap, ini akan menular ke suporter yang lain. Saatnya merawat perdamaian tak ubahnya merawat Garcinia Dulcis di salah satu sudut Kota Solo: menyiraminya dengan air yang mendinginkan hati.

Pasoepati harus berupaya keras menyelesaikan ‘pekerjaan rumah’: menyosialisasikan perdamaian ini kepada keluarga besar mereka sendiri. Sementara, Bonek harus mewaspadai perdamaian yang mulai terbangun ini dihancurkan oleh ulah sebagian dari Bonek sendiri yang masih suka melakukan kerusuhan di saat tandang ke kandang lawan.

Sebagian Bonek, terutama yang berusia remaja dan masa labil, berpotensi merusak apa yang sudah diupayakan susah payah dengan melakukan onar di Solo atau kota-kota lain. Potensi ini bisa dilihat dari saat puluhan Bonek ditangkap setelah merusak di Stasiun Pasar Turi. Mengejutkan, separuh dari Bonek yang ditangkap itu berusia 15 tahun ke bawah, dan sisanya masih belum memasuki usia 20 tahun.

Tapi apapun itu, sesuatu yang langka tak layak dibiarkan mati begitu saja, tentu. Apalagi jika itu bisa membuat Indonesia menjadi lebih baik. Inilah momentum ‘paling Indonesia’ yang pernah saya temui. Sebuah perdamaian dua kelompok yang bertikai. Sebuah teladan dari lapangan sepakbola. [oryza a. wirawan]

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *