Cerita Tour Pasoepati Ke Surabaya – Menaklukkan Bonek, Popor Senjata Dan Bunga.

Kereta api luar biasa (KLB) Pasoepati tiba di Stasiun Gubeng Surabaya sekitar jam 11.30. Tanggal 6 April 2000. Dari Stasiun Balapan Solo 12 rangkaian gerbong kereta api yang khusus disewa untuk membawa suporter Pelita Solo ke Surabaya bolak-balik itu dilepas oleh Walikota Solo Slamet Suryanto.

Inilah tur pertama kali bagi sekitar 1850 Pasoepati keluar kota dengan kereta api carteran ! Tidak tanggung-tanggung. Langsung terjun ke kota yang terkenal dengan boneknya, berbekal tema From Solo With Love yang diadaptasi dari judul filmnya Sean Connery, si Agen 007, From Russia With Love. Kami datang untukmu Surabaya, membawa cinta untuk Anda !

“Surabaya shock melihat kami yang membuat merah stasiun Gubeng !”, begitu aku tulis dalam buku harianku. Di sisi lain, stasiun ini juga menggodaku untuk sedikit bernostalgia. Tahun 1974 aku pernah berjualan koran dan majalah di sini, beberapa hari, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan keluyuran ke Bali.

Setelah mampir di wartel stasiun untuk mengirim fax berupa siaran pers mengenai makna dan tujuan tur Pasoepati ke Stasiun TVRI Surabaya, saya ikut rombongan yang bersiap bergerak jalan kaki beriringan menuju Tambaksari.

Seminggu sebelumnya saya sebagai Menteri Media dan Propaganda Pasoepati telah mengirim surat ke pelbagai surat kabar Surabaya, seperti Surabaya Post, Surya dan Tabloid Libero, yang isinya Pasoepati mengucapkan kulo nuwun, permisi, minta ijin kepada warga Surabaya untuk berkunjung secara bersahabat ke kota mereka.

Satu surat kami dimuat di Surya, dan seorang warga Surabaya sudi menelpon ke markas Pasoepati untuk menyampaikan simpati sekaligus ucapan selamat datang.

Ucapan permisi dari Pasoepati juga terungkap melalui bahasa bunga. Telah disiapkan puluhan untaian bunga imitasi warna-warni, di mana padanya tergantung kertas mungil berisi tema From Solo With Love dan ucapan pesan-pesan damai dan bersahabat dari warga Solo untuk Surabaya.

Pada sepanjang melakukan long march Gubeng–Tambaksari, yang mendapat pendampingan rekan-rekan PFC (Persebaya Fans Club) berseragam kaus hijau pupus bertuliskan sponsor Hartono Kroto Kristal dan juga rekan Yayasan Suporter Surabaya (YSS) dengan rompi yang bernomor punggung besar-besar, Pasoepati menyapa hati Surabaya dengan bunga.

Bintangnya adalah Lintang Rembulan, gadis cantik SD di bantu kakaknya Ayu Permata Pekerti, yang dengan rada malu-malu membagikan bunga. Ada personil pasukan Brimob, polisi lalu lintas, penjual buah, rumah-rumah di tepian jalan, pengendara motor, juga anak-anak sebayanya yang nampak dengan senang menerimanya.

Sentuhan kecil ini esok harinya menjadi sesuatu yang tidak terduga dan membanggakan warga Pasoepati. Harian Surya (7/4/2000) di halaman depan memasang foto close-up dan keterangan berbunyi :

“Senapan otomatis petugas Brimob diselipi bunga plastik, tanda kasih sayang dari suporter Pasopati (seharusnya Pasoepati –BH) Solo”.

Pesan yang ingin disampaikan kepada Surabaya dari lubuk hati Pasoepati, rupanya telah sampai kepada sasaran yang dituju. Dengan sempurna. (BH).

Dikutip dari https://suporter.blogspot.com/search?q=popor+senjata

Berangkat jam 6 pagi Solo, hingga finis di Stasiun Gubeng Surabaya pukul 12 siang. Berjalan kaki dari statisun hingga Stasion tambaksari hingga sejam lebih mereka lakukan. Sepanjang perjalanan, nyanyi-nyanyian yel-yel diteriakkan lantang dibawah komando  Mashadi “pete”
“Pete itu dulu suporternya tim basket Bhineka, itupun sebagai tukang gebuk drum. Akhirnya saya undang ikut pasoepati dan dia jadi leader dia wal-awal terbentuknya kita. Di Surabaya Gondrong (Maryadi) juga datang, sya atau dari dokumen foto disana, tapi kala itu dia masih jadi suporter biasa dan tidka naik podium,” kata Mayor Haristanto
Pertandingan tersebut antara Persebaya dan Pelita Solo berakhir sama imbang 2-2. Mayor mengakui sempat ada kekhawatiran jika skor akhirnya menang untuk timnya. Amukan dari Bonek tentu saja bisa jadi akan terjadi melihat tim kebanggannya kalah di rumah sendiri, terlebih ada tim tamu yang berpesta atas kemenangan timnya di rumahnya sendiri.
“Tapi kita cukup bangga juga pas pertandingan, sepanjang pertandingan kita nyanyi terus, bahkan Bonek sering bengong liat aksi kita. Soalnya sebelum berangkat kita ada latihan yel-yel juga jadinya pas disana sudah kompak,” tuturnya

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *